MalukuSport-Terpuruknya prestasi olahraga tinju Maluku beberapa tahun belakangan ini membuat prihatin beberapa kalangan,mengingat olahraga tinju merupakan cabang olahraga yang menjadi andalan Maluku di setiap event.
Kita sebut saja Rony Samloy Pengamat Olahraga Maluku,menurutnya hal ini tidak bisa di biarkan harus ada langkah-langkah yang bijak.
Dirinya menyebut ketika ada wacana akan di selenggarakan Tinju Antar Sasana,hal ini harus di sambut dengan baik,event yang semula hampir gagal di selenggarakan akibat tidak ada anggaran namun akhirnya terlaksana itu patut di apresiasi dan di dukung oleh semua pihak termasuk menjadi domain dan kewenangan dari pada pengurus Pertina Provinsi Maluku.
Namun, menjadi tanda tanya sejauh mana peran Ketua Pertina Maluku dalam melihat problem yang dialami oleh pelatih-pelatih, khusus dalam kaitan dengan bagaimana mereka menyelenggarakan kejuaraan antar sasana.
Lebih lanjut,Samloy mengatakan,kalau berdasarkan sistem undang-undang nasional nomor 3 tahun 2005,bahwa tanggung jawab pembinaan dan pengembangan prestasi itu ada pada 3 batang tubuh yaitu, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dunia usaha.
“Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa,karena keterbatasan anggaran namun juga pemerintah daerah dan Pertina Maluku tidak bias menutup mata karena ini tanggung jawab mereka,”kata Rony Samloy yang juga adalah pengacara ini.
Menurutnya, pengurus Pertina,jangan hanya menerima jabatan tapi tidak bisa melakukan tanggung jawab untuk pengembangan dan pembinaan prestasi,itu masalahnya.
Karena para pelatih mengharapkan adanya inspirasi,itu dia tidak muncul dari pengurus cabang olahraga terkait dalam hal ini Pertina Maluku, maka hal ini, menjadi kewenangan dari pada para pelatih mengambil inisiatif untuk menggelar kejuaraan antar sasana.
Diakuinya juga bahwa, inisiatif itu bisa saja datang dari bukan hanya pengurus,tapi juga pelatih,karena ada pelatih juga yang masuk dalam struktur kepengurusan Pertina Maluku.
“Olehnya,kita perlu memberikan apresiasi bagi pelatih-pelatih yang mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan event yang namanya kejuaraan antar sasana tersebut,”ujar Rony.
Hanya saja,lanjut Samloy,persoalannya pelatih tidak punya anggaran,maka ini mesti di drive oleh Ketua Pertina.Oleh karena itu, menjadi pertanyaan sejauh mana peran Ketua Pertina Maluku.
“Yang tadi saya mengatakan bahwa jangan hanya menerima tanggung jawab tapi tidak bisa berkorban.Orang tidak gampang menerima tanggung jawab sebagai ketua pengurus cabang olahraga kalau dia tidak mau berkorban itu persoalannya,”ucap Rony.
Dikatakannya lagi, publik di Maluku tau bahwa tinju itu cabang olahraga (cabor) prioritas di Maluku,karena cabor tinju yang menjadi langganan Maluku mendulang medali emas di setiap iven PON.Tinju pernah memberikan semacam prestasi spektakuler di PON tahun 80 an,ketika Maluku meraih sekitar 7 medali.
Ini menjadi catatan bagi pengurus cabor Pertina Maluku bahwa sejauh mana mereka mendrive program-program yang kemudian mengembangkan minat dan bakat tinju melalui kejuaraan-kejuaraan,seperti pernah ada kejuaraan Walikota Cup.
Ketika itu jaman Walikota Ambon Jopi Papilaya,tetapi kemudian kejuaraan Walikota Cup ini mulai meredup,karena walikota berikutnya (Richard Louhenapessy) itu bukan Ketua Pertina.
Oleh karena itu,menurutnya,kalau tidak ada kejuaraan, sementara potensi ada,juga percuma.”Karena itu,kita perlu memberikan apresiasi bagi para pelatih yang bisa menyelenggarakan kejuaraan antar sasana walaupun dalam keterbatasan anggaran dan itu harus tetap rutin dilaksanakan,tinggal bagaimana Perina tidak boleh menutup mata, harus membuka mata,”tegasnya.
“Untuk itu,saya berharap, sudah saatnya,orang yang duduk di Pertina Maluku harus orang-orang yang berani berkorban, seperti almarhum Hadi Bundoyo,Yopi Papilaya dan sebagainya,itu merupakan orang-orang betul-betul berani berkorban untuk kemajuan olahraga khususnya tinju di Maluku,”tandasnya.
